test test

Thursday, June 02, 2011

done with the ortho course !

Done with the hectic scheduled-orthodontic course. 4x PP Surabaya-Singapore yang sayangnya bukan buat holiday. Hahaha... Guess what, dari kunjungan kenegaraan ini, belom pernah 1x pun saya nginjek Takashimaya atau Universal Studio. See how serious I was :p Pengen kapan-kapan kesana lagi, tapi nggak dalam waktu dekat, dan bener-bener buat holiday. Bukan course, seminar, symposium, whatsoever. Kalo dipikir-pikir, setahun ini malah jadwal saya cuman buat course dan seminar *stress pangkat satu juta*

Dan rutinitas hari Minggu saya : meeting. Di tempat yang saya datangi tiap hari : tempat praktek.

Hahaha... totalitas seorang dokter gigi, eh ?
And I'm thanking God 'cause I'm still alive -eh, survive- 'til now. Good news, I (am still) love my job.



Module 1 - November 2010. I'm a good student eh ? ;p



Module 1 team member in Fondaco's office. The place looks so wide in photo. Hahaha... how come???


January 2011. Module 2's dinner in -I forget the name of the resto- Had sharing-cases conversations with Dr. Ronnie Yap, senior dentist from Singapore. We ended up with more to talk than eat, hahaha...


April 2011. Module 3's dinner in Jumbo. Look at the cute crab approns we had ! Still keep it as a souvenir !


Satisfying seafood from Jumbo. Look at all of happy (and full) faces :) I ate just a half of chili crab's claw and already full ! Can you imagine how big the crabs were... Also love the otak-otak. Never had 'em before. But this one was very deliciouuuusooo...


Doing cephalo-tracing in class ? Uhmmm... forget :p Through the camera lens, the class looked so big. Wow !


Module 4's graduation dinner in Paradise Pavilion with the new president of CGDP : Dr. Jerry Lim in the middle of us.




With Jane Fonda and Ronny Fonda. Thanks for the sophisticated dinner treat, Jane !




All of Indonesian delegates with Dr. Lisa Park and Dr. Mok Siew Min in the same table.








Graduated ! Yay ! Took picture with my lecturer, Dr. Kenneth Lew. I can call him daddy :p His son is as same age as I am !


All of the graduated doctors. Standing level and align -just like teeth after braces :p

Tuesday, May 17, 2011

happy vesak day (& survival tips in dentistry faculty)

Happy Vesak Day.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata. May all's being happy. Semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu, sadhu, sadhu.

Semoga semua makhluk berbahagia - saya suka quote ini. Dulu di sekolah minggu, saya pernah diajarin makna dari kalimat ini. Makhluk - baik yang kasat mata atau nggak kasat mata - ceritanya hidup berdampingan di dunia ini, cuman beda dimensi. Perbedaan dimensi ini tergantung karma mereka di kehidupan sebelumnya. Yes, I do believe in karma. Karena itu, dulu saya meyakini, kalau orang baik dan jujur pasti selamet. Idealis banget.

Too bad, I used to live and believe on that fairytale.

Yap, itu dulu darling. Sebelum saya masuk FKG. Di FKG, dengan mengesampingkan faktor X yaitu hoki dan apes : orang yang terlalu jujur bakal ajur. Dan orang yang cerdik walaupun nggak jujur-jujur amat akan selamat. Kesimpulannya, konsep ideal : orang baik dan jujur pasti selamet ; cuma ada di negeri dongeng. Dan film-film 20th fox century.
Fellow dentists, I bet you agree with me :D

Sekalian nyambung ke FKG, karena sekarang lagi musim pendaftaran mahasiswa baru, barangkali postingan saya bisa jadi bahan referensi adek-adek sekalian agar nggak ehm... ngerasa salah ambil jurusan dan ehm... menyesal kelak di kemudian hari *bukan curcol*

Nggak bermaksud mengintimidasi, saya sendiri nggak nyesel jadi dokter gigi kok, tapi kuliah di FKG-nya itu susah-susah-susah-sussssaaaahhh gampang. Alias banyakan susahnya daripada gampangnya. Selain mahasiswa harus cerdik, kita bener-bener harus banyak doa. Soalnya faktor X yang namanya 'hoki' dan 'apes' emang bener-bener ada.

Ada temen saya yang menurut saya, hoki banget. Namanya MH. Nggak pernah nyontek, smokel, titip absen, ngerokok, miras, dan saya lebih sering papasan sama dia di musholla ketimbang di kantin. Pokoknya suci hama. Instead of being a dentist, I think he's suit enough to become a kyai.

Kalo dinalar, emang nggak masuk akal. Karena jadwal klinik super mepet berbanding lurus dengan kuota kubikel yang sangat amat terbatas sekali itu bener-bener nggak memungkinkan seorang mahasiswa FKG untuk menjalani klinik dengan jujur 100%. Pasti adalah berapa sekian persen lah yang menurut kami, dengan terpaksa dihalalkan, supaya requirement cepet kelar, dan membantu hajat hidup temen-temen yang lain supaya cepat lulus. Kecuali kalo orang itu hoki tingkat dewa, kayak si MH ini.

Inilah yang saya bilang dengan faktor X : hoki. Di saat mahasiswa lain menghindar-hindar dari dosen killer dan ngejar-ngejar dosen dewa, MH malah kebalikannya.
Hebatnya, dosen-dosen killer ini malah kabur kalo MH udah mulai deket-deket minta ACC kerjaan. "Sakkarepmu maaaasss..... Wis sana ndang ngalih" (baca : terserah kamu mas.... udah sana ndang minggir). Daaaaannn.... ditandatanganilah buku requirement MH.
Saya bilang sih, orang ini betul-betul berada dalam lindungan Yang Maha Kuasa saking kudusnya.

Sekilas tentang MH. Dia nih sekalinya ngomong bisa nggak selese-selese kayak siraman rohani.
Pantesan dosen-dosen killer pada keok. Kalah mabrur soalnya. Ohya, dia udah naik haji btw *nggak nyambung*

Orangnya juga mahasopan. Kalo nulis SMS, selain pake EYD, pilihan katanya luarrrrr biasa.... Chairil Anwar ? Sapardi Joko Damono ? Ok, you name it. Mereka lewattttt semua. Nggak ada yang ngalahin kata-kata mutiaranya MH.

Dan mahapemaaf. Karena dia nih saking lugunya, suka bolak-balik ketipu sama pasien. Seringkali pasien-pasien itu janji-janji datang, tapi janji tinggalah janji. Tapi MH tetap tawakal menanti pasiennya yang nggak muncul-muncul. Alhasil, requirementnya kayak kredit macet. Tapi lagi-lagi yang namanya faktor hoki, dia selalu bisa lolos requirement. Entah itu karena welas asih sang dosen, atau tiba-tiba dia dapet pasien dadakan, atau mendadak dapet injury time buat nyelesein requirement, atau FKG tiba-tiba kejatuhan meteor.
Emang sakti mandraguna. Kata temen-temen yang lain sih, kita harus sering deket-deket MH, biar ketularan sakti.

Tapi sayangnya, nggak semua orang seberuntung MH. Pernah ada temen saya yang nggak kalah lurus. Dan jujur. Tapi perbenihan pas jaman klinik konser bisa sampe berbulan-bulan. Akhirnya bisa ditebak, klinik konsernya nggak lulus, karena sampe hari terakhir klinik, perbenihannya masih positif.
Maaf, anda kurang cerdik, mas. Ditambah apes.

FYI, kalo requirement endo / perawatan saluran akar jaman saya dulu, kita-kita mahasiswa emang diharuskan melakukan tahapan perbenihan. Kalau perbenihan udah negatif, which means sudah nggak ada bakteri di dalam saluran akar, which for me... bener-bener hal yang sangat mustahil bin mustajab apabila dilakukan dengan jujur dan adil tanpa 'sedikit rekayasa', kita boleh melangkah ke tahap pengisian saluran akar.

Banyak jalan untuk membuat perbenihan negatif. Cara jujur : tentu saja dengan melakukan pekerjaan se-steril-sterilnya sesuai dengan petunjuk di buku praktikum.
Yeah, jadi dokter dan pasiennya mandi kembang dulu, trus pake baju tim pemberantas nyamuk aedes aegyptie yang super steril. Kalau perlu, masker dan sarung tangan disteril sekalian, sak-dental unitnya sekalian. Dan karena detik-detik dimasukkannya paper point ke tabung perbenihan menjadi detik-detik yang paling krusial, semprot aja sekalian desinfektan di udara, biar steril. Like this :



At least kalo gagal, dosen klinik pasti udah ngelulusin karena terharu dengan prosesi perbenihan yang sangat amat niat ini.
PS : belum pernah dipraktekkan di klinik. Tapi monggo dicoba...

Cara berikutnya, tergantung kreatifitas masing-masing. Karena cara ini nggak halal, better you'll find out yourself, soalnya kalo saya ngajarin, ntar dikutuk sama dosen-dosen yang baca :p

Jangan lupa, kalo kuliah di FKG, ada 1 skill yang wajib dikuasai selain skill menghapal rute terdekat untuk PP rumah pasien - kampus demi kelancaran hajat hidup perklinikan, yaitu .... *jreng jreng*

Public speaking

Nggak ngecap lho, tapi skill public speaking kita bolehlah diadu sama anak-anak jurusan PR. Bahkan mahasiswa yang pendiem sekalipun bisa jadi tukang jamu kalo udah masuk FKG. Karena skill ini bener-bener penting untuk :
1. Mencari pasien
2. Dan merayu pasien
3. Atau merayu kakak kelas untuk bantuin kita
4. Atauuu... merayu dosen agar lebih bermurah hati pada kita, mahasiswa2 FKG yang malang ini *oops*

Dan ilmu ini kepake selamanya kalau udah praktek. Trust me.

Ohya, masuk FKG, siap-siap dengan berbagai macam praktikum yang tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya. Yang sayangnya, kepake sampe akhir hayat, jadi mau nggak mau harus bisa.

Praktikum 1 : Determinasi gigi
Jaman maba dulu, saya bahkan nggak bisa bedain gigi P1 sama P2, M1 sama M2, OMG... why oh why do teeth have to look SO SO SO SIMILAR ???? Hidup memang tak adil... *nangis* *tau gini masuk kedokteran hewan aja. Dimana gajah dan kelinci keliatan jelas bedanya*

Praktikum 2 : Mengukir gigi
Bedain aja susah, belom lagi ngukirnya. Dulu saking nggak bisanya, saya ngukir banyaaaaaak banget gigi dari sabun sampe mahir. At least nggak terlalu kecewa kalau gagal, karena sabunnya bisa dipake mandi, hihihi...

Praktikum 3 : Menyusun gigi

Ada stamps collector, ada debt collector, nah kalo di FKG ada teeth collector. 1 gigi asli dan utuh bisa berharga 5ribu - 30ribu rupiah atau bahkan lebih. Saking desperatenya gara-gara kekurangan gigi buat disusun di model praktikum, saya sempat melas-melas ke beberapa puskesmas, ke kakak kelas, beli di juru kunci anatomi FK (menurut rumor beredar sih, si bapak anatomi ini juga merangkap... juru kunci makam. Ok, saya nggak mau nyari tahu kebenarannya. Better let it be a rumour...), sampe kepikiran pengen nyabut gigi sendiri.
Kalo dijual di eBay, pasti jualan gigi bakal laku keras diborong anak-anak FKG.


Sebagian dari koleksi saya ;) Kalo dijual semua, bisa laku jutaan nih.

Masuk FKG harus siap-siap bangkrut. Apalagi buat mahasiswa indekos yang hidup pas-pasan.
Say thanks to public-speaking skill yang bisa dipakai entah untuk jualan, atau untuk....ngutang.

Masuk FKG harus siap-siap kurus.
Beban berkilo-kilo dari toolbox yang harus dibawa setiap hari, dan jatah uang makan yang harus disisihkan buat jajanin pasien bener-bener bikin temen-temen sekolah saya pangling kalo reuni. You won't need what 'as seen on tv' to make yourself thinner. Go to dentistry faculty !

Masuk FKG harus siap-siap setressss...
No doubt. Definitely.

Kalo orang itu kuliah di FKG, sudah menjalani klinik, dan mengklaim dirinya nggak pernah stress, pasti orang itu :
1. Temen saya, MH
2. Eh, tapi dia pernah cerita kok sama saya kalo dia juga pernah stress waktu nyari pasien. Yes, kyai juga manusia, beibeh...
3. Titisan dewa
4. Pernah koma karena terhantam benda tumpul. Hilang ingatan maksudnyaaaa...

But for
some reasons I can't explain, kuliah di FKG ada juga kok sisi menyenangkannya.

































Nggak banyak lho ya tapinya...

Thursday, May 12, 2011

tipe-tipe nawar

Pasien hobi nawar, itu sih udah biasa. Dalam sehari, pasti ada aja pasien hobi nawar yang dateng ke praktek. Justru kalo kadang seharian itu pasien pada manis-manis semua, nurut, nggak pake cerewet, saya malah parno kalo besoknya bakal kebanjiran pasien yang cerewet-cerewet semua.
Yes I do believe in yin and yang. Ada saat bahagia, pasti ada saat susah. Everything will come to you in balance.

Cerita-cerita tentang jualan jasa, nggak selalu enak lho. Jadi kalo ada yang bilang : "Enak ya jadi dokter gigi. Duitnya banyak." ; aslinya nggak semua dokter gigi kayak gitu lho. Kadang orang cuman tau matengnya. Siapa tahu dulunya sebelum jadi dokter laris kayak sekarang, si dokter mesti ngesot-ngesot dulu merintis usaha prakteknya.
Kecuali kalo si dokter tiba-tiba menang lotre, atau dapet warisan. Itupun kemungkinannya satu dibanding sejuta atau sepuluh juta kayaknya.

Saya juga sering kedatengan pasien yang kayaknya educated, lulusan perguruan tinggi, tapi ternyata nggak well-educated. Biasanya pasien ginian, sepaket sama money-minded. Misalnya ngomong gini : "Susah ya ke dokter jaman sekarang. Dikit-dikit disuruh operasi. Dokter makin kaya, pasien makin susah."
Ke dukun aja kalo gitu mbak. Tapi kalo jadi kenapa-kenapa gara-gara nggak dioperasi, jangan nyalahin dokternya ya, hihihi...

Nggak enaknya jadi dokter / dokter gigi juga macem-macem. Namanya juga jualan jasa. Dan karena harga jasa nggak bisa kompakan kayak DVD bajakan di ITC ato kisaran harga cabe di pasar, ya susah juga jelasin ke pasien yang bilang gini : "Lho kok mahal banget dok. Di dokter X aja nggak segitu. Di dokter Y malah lebih murah lagi." Hihihi, kalo udah kayak gini, rasanya pengen nyekek si pasien sambil bilang : "Ibu bayar, atau saya cabut gigi ibu sampai abis", yah kita mesti banyak sabar dan tawakal sambil inget-inget derita waktu jaman kuliah dulu yang jauh lebih menderita daripada cobaan kedatengan pasien model begini.
Lha ya masa saya mesti bilang sama si pasien : "Waduh, gimana ya Bu. Itu udah harga nett loh. Nggak bisa kurang lagi." Lak macem toko kelontong aja.

Tipe nawarnya juga macem-macem. Tipe yang paling umum alias yang paling sering saya temuin sih, pasien bilang : "Jangan mahal-mahal dok. Potong 50 ribu ya dok. Buat langganan."
Hahaha, well... sounds similar with : langganan sakit gigi ? Bukan saya lho ya yang doain :p

Ada lagi yang tipe ekstrim. Kayak gini nih misalnya : "Mahal amat dok bersihin karang aja 500 ribu. Pokoknya saya cuma mau bayar 250 ribu."
Kalo kejadiannya di McD, pasti udah dipanggilin sekuriti.

Ada lagi tipe melas : "Wah saya bawanya cuman segini dok. Segini aja ya. Sisanya ngutang dulu. Atau ikhlasin aja deh dok, biar saya nggak berutang sama dokter."
Speechless. Berasa kayak bank perkreditan rakyat.

Ada yang tipe keminter : " Dok, menurut saya, karang gigi saya nggak banyak deh. Jadi nggak mungkin sampe 500 ribu deh."
Padahal bersihinnya sampe nungging-nungging *tepok jidat*

Ada juga tipe nggak mau rugi : "Sekalian nambalnya ya dok. Tapi gratis ya nambalnya."
"Boleh, tapi adanya gratis cabut. Gimana ?" :D -guyonan lawas jaman kuliah di FKG dulu-

Ada tipe MLM : "Saya udah banyak ngenalin dokter ke famili-famili saya lho dok. Berarti harusnya saya dapet gratis nih."
What the ????

Baru-baru ini, saya nemu model lain lagi. Tipe barter. "Dok, saya bayar 300 ribu, 200 ribunya ntar saya gantiin bawang goreng jualan saya deh."
FYI, si pasien adalah bos bawang goreng di pasar tradisional terkemuka di Surabaya. Tapi 200 ribu buat bawang goreng ??? Emangnya saya mau hajatan ??? Hehehe, kalau bos Ferrari sih, boleh lah saya dibarterin sama Ferrari *ngayal* *minta ditabok*

Monday, May 09, 2011

forever young

Ada salah satu pasien, supersibuk banget orangnya. Senin les inggris, Selasa les komputer, Rabu belanja, Kamis yoga, Jumat persekutuan doa, Sabtu cooking class dan karaoke, Minggu arisan. Kalo lagi visit ke dokter gigi, biasanya dia suka ngambil hari Senin. Jadi hari Selasanya, dia rapelan kursus inggris sama komputer.

And she's a 65 years old widow with 2 children and 5 grandchildren.
Yes, 65 years old. Tapi nggak kayak umur 65. Saya aja nggak percaya sebelum liat KTPnya. Saya kira umurnya masih 40-an something.

Dia nenteng laptop lho kemana-mana. Padahal bukan businesswoman atau apa. Orangnya cuman ibu rumah tangga biasa yang hobi masak. Dan karaoke. Bilangnya sih gini : "Tante nggak mau kalah sama cucu tante. Kecil-kecil pinter komputer, ngomong inggris sama mandarin juga nyerocos." Wow, bravo, 2 thumbs up tante ! 4 deh sama jempol kaki sekalian. Pasti dulu tante bintang kelas deh.

Saya bayangin, kalo dia reunian sama temen-temen sekolahnya dulu, temen-temennya bakal heboh ngomong gini sama si tante : "Aryati, inget nggak ? Dulu kan gue sering duduk di sebelah lo. Biar kebagian contekan. Elo kan yang paling pinter sekelas." atau kalo ada award murid paling rajin nyatet, pasti tante ini juaranya. Lha dia hobi banget bawa notebook kemana-mana.... Saya nggak pernah liat isinya sih, tapi kalo dia lagi konsultasi, sering banget dia sambil nyatet-nyatet.

Ngalah-ngalahi mahasiswa FKG kalo dikuliahin dosen pokoknya, hahaha...

Monday, March 07, 2011

Gigi Sehat

Woohoo ! I launch my new blog for my private clinic. Check it out, readers :)

Gigi Sehat Dental Clinic

Ngomong-ngomong, bikin blog buat praktekan ini udah cita-cita saya dari jaman dulu. Saya kagum banget sama dokter atau klinik yang punya website atau blog. Kayaknya komunikasi ke pasien dan calon pasien lebih banyak aksesnya dibanding cuman tatap muka. Siapa tahu besok-besok selain ngomong gini ke pasien : "Ini kartu nama saya, nomer telponnya ada disini ya." bisa ada embel-embelnya : "Ada websitenya juga lho."
Hahaha... just kidding. Kedengerannya kok ndeso ya...

Ok, blog ini saya bikin dengan desain masih ala kadarnya, karena nggarapnya disela-sela jam praktek, tapi bakal saya upgrade -kalau nggak males. Postingannya lebih serius yang pasti. Bukan blog haha-hihi ditambah rasan-rasan pasien kayak blog ini. Hehehehe...

Sorry kalo sementara blognya masih inggrisan. Soalnya sempat saya trial-error ke pasien ekspatriat Afrika Selatan dan Hongkong. Alhasil mereka terbingung-bingung waktu saya publish blog ini dalam bahasa Indonesia. Jadi kesimpulan sementara saya : lebih banyak orang Indonesia yang lebih ngerti bahasa Inggris daripada sebaliknya. Apalagi pas saya google translate dari blog Gigi Sehat ke bahasa Indo, lha kok jadinya masih amburadul. So, terpaksa yang bahasa Indonesia under maintenance dulu ya readers.
Jadi jangan request blog pake bahasa Jawa dulu ya. Adminnya pusing, hahaha...

Saturday, February 12, 2011

iklan iklan (yang ternyata) seru

Pasien sering banget nanya gini nih...

"Sikat gigi yang bagus tuh yang merk apa sih ?"
"Kalo buat gigi sensitif, bagusnya yang merk X ya ?"
"Biasanya saya pake obat kumur merk X. Bagus nggak sih ?"
"Kalo saya pake odol merk X, gigi saya bisa putih beneran nggak sih ?"
Kalo ditotal-total, dalam sehari, bisa 5-10 pasien nanya ginian...

Jadilah belakangan, sebelum tidur, saya suka ngamatin saluran tv lokal. Saya pingin tau, sebenernya iklan-iklan tuh pada ngomongin apa toh kok orang-orang jadi brand-minded. Jujur aja saya emang jarang nonton tv. Makanya saya suka nggak nyambung kalo di timeline twitter, orang-orang pada ngomongin boyband terhip detik ini : SM*SH dan sinetron terbaru mereka yang menurut saya judulnya aneh banget... Tjinta Tjenat Tjenoet or something sounds like that. Hahaha...

Back to the ads. Ternyata iklan-iklan di tv tuh kreatif banget. Terlepas dari iklan pasta gigi, saya suka banget sama iklan salah 1 produk minuman jeruk yang menurut saya kreatif. Iklan ini menayangkan berbagai tipe orang yang meminum produk minuman mereka. Kreatif banget.

Sebuah iklan susu untuk balita juga eyecatching dan earcatching banget. Saya suka banget sama slogan mereka : Life is an adventure. Dan anak-anak di iklan itu gemesin banget, OMG..... give me the afro one please....

Yang lucu-lucu nih, ads produk-produk rokok. Mulai dari yang nggendong emak-emak sampe yang : kuberi 1 permintaan. Hahaha... kreatif banget ya orang-orang ini bikin iklan yang lucu kayak gini.

Ada juga iklan suplemen yang earcatching karena pake lagunya Mariah Carey yang judulnya Hero. Pas ditonton, ternyata iklannya mengharukan, walopun endingnya agak njeglek. Hahaha...

Salah satu iklan pasta gigi yang menjamin gigi memberi kesan putih juga earcatching banget karena mereka menyuguhkan lagu tahun '60an sebagai musik latar. Lagunya enak banget sampe saya bela-belain download. Yang nyanyi namanya Unit 4+2 dan judul lagunya Concrete and Play. Cobain dengerin deh, readers...

"The sidewalks in the street, the concrete and the clay
Beneath my feet begins to crumble, but love will never die
Because we'll see the mountains tumble, before we say goodbye"

Hihihi, ternyata iklan-iklan ini kreatif gini... ya saya nggak nyalahin d kalo pasien jadi brand-minded. Harusnya produk kedokteran gigi juga dibikinin yang kayak ginian yah... Eyecatching dan earcatching. Biar sebelum beli barang, saya nggak usah repot-repot bacain tumpukan brosur ato CD-CD yang (biasanya sih) nggak pernah saya buka, hahaha...


Sebenernya mau produk atau merk apapun, sikat gigi yang direkomendasikan saya eh PDGI adalah sikat gigi berbulu datar dan soft. Dan odol apapun okelah kalo menurut saya. Tergantung kepercayaan dan keyakinan masing-masing ajalah. Dan mouthwash merk apapun baru efektif asal gigi udah disikat dengan baik setiap habis makan.
Kalo perlu, bawa sikat gigi aja deh kemana-mana. Biar pas abis makan, bisa langsung sikat gigi. Serius nih.

Saturday, January 29, 2011

i insist !

Ada pasien emak-emak yang dateng ke praktek. Dengan semangat 45, si emak 85 tahun ini tereak ke saya :

"Dok, saya minta gigi ini dicabut. Walopun dokter nggak mau nyabut, saya tetep minta gigi ini dicabut."

Wow, statement yang sangat berani. Apalagi saya belum ngeliat giginya sama sekali. Dan ternyata... setelah diperiksa, gigi taring atas kanan yang ngeyel minta dicabut ini nggak goyang sama sekali. Ada lubang kecil di leher gigi, karies yang udah berhenti. Harusnya ditambal aja udah no problem.

Tapi si emak ngotot minta gigi taring yang nggak bergeming ini dicabut. Aduh, mana kalo pagi saya nggak sarapan lagi... Nyabut gigi model gini, pasti bakal bikin sakit pinggang minimal 2 jam ke depan...

Walopun saya nggak mau nyabut, si emak tetep ngotot kalo gigi ini harus dicabut. Bagaimanapun juga. She insists !!! Bahkan dia udah nyari-nyari dimana tang cabut disimpen. Mungkin dia udah berencana bakal nyabut sendiri kalo saya tetep nggak mau nyabut.

"Lho lho lho, tunggu dulu tante... Gigi masih bagus gini ngapain dicabut ?"

Tau apa katanya ? "Soalnya saya ngerasa taring saya yang ini mrongos dok..."
Yeah, sebenernya gigi itu emang agak mrongos sih... Tapi ya ampun... kenapa baru komplain sekarang ??? Setelah 85 tahun si gigi berakar di situ sih ??? Saya curiga si emak lagi puber kedua.

Akhirnya si gigi batal dicabut. Sebaliknya dia mempertimbangkan perawatan orto alias kawat gigi. Kalo beneran dia mau, dia bakal jadi pasien kawat saya yang paling uzur... Hahaha :))

Tuesday, December 21, 2010

mantep doanya !

Dari dulu sampe sekarang, saya paling anti nyabut kalo nggak bener-bener kepaksa. Kalo jaman kuliah dulu sih saya terpaksa nyabut demi requirement. Karena buat saya gigi ibarat nyawa, jadi sekarang kalo bisa, kita *saya dan tim* bakal pertahankan tuh gigi abis-abisan sebelum ngeluarin vonis cabut.

Nah tadi pagi, di tempat praktek, datanglah pasien yang giginya udah nggak terselamatkan lagi. Ceritanya, giginya udah goyang derajat 3, mahkotanya fraktur, akarnya juga udah resesi parah. Jadi setelah diprofilaksis, hari ini si pasien dijadwalkan untuk cabut gigi.

Karena prosedur bedah di tempat saya emang panjang ritualnya, si pasien dan istrinya tanda tangan informed consent dulu...
Tensi dulu...
Dijelas-jelasin dulu sampe mereka puas...
Dikasih instruksi post ekstraksi...
Doa dulu... dalam hati
Sterilisasi ekstra oral dan intra oral dulu...
Baru saya mulai injeksi anestesi

Nah, ngomong-ngomong soal doa... si pasien dan istrinya ini adalah tokoh agama X di Surabaya. Pas insersi jarum pertama, pasien mulai gelisah. "Dok... saya takut sekali sekarang. Nggak sakit kan ya dok ? Pasti nggak sakit kan ya dok ? Berani jamin kan ya kalau nggak sakit ? Awas lho dok kalo sampe sakit."
Untung nggak pake ngancem sambil nyekik kerah baju.

Karena si pasien gelisah, istrinya ikut gelisah. Dia tiba-tiba naroh tangannya di kepala suaminya. Kayak lagi fiksasi gitu... Saya panik. "Eeee... tante, mau diapain suaminya ???"

Istri si pasien : "Mau saya bacakan doa, dok." Trus dia ngeliat suaminya dengan pandangan penuh cinta. "Papa tenang aja. Mama bacain doa X ya buat Papa..."

Ternyata yang dimaksud 'dibacakan doa' tuh dibacain beneran. Dengan artikulasi yang jelas dan lantang. Bukan mbatin doa dalam hati.

Langsung aura di tempat praktek mendadak kudus...

Padahal proses nyabutnya nggak sampe semenit. Dan doa si tante belum kelar-kelar... Kayaknya panjang nih ayat yang bakal dibacain. Terpaksa dental chair nggak bisa saya berdiriin dulu. Lha kepala suaminya masih dipegangin terus. Untung nggak pake megang kepala saya sekalian.

Semenit, dua menit belum selese juga... Khusyuk banget berdoanya...

Tiga menit, empat menit, lima menit...

Sampe akhirnya suaminya bilang : "Ma, udah kok... Nih gigi papa udah keluar.
Istri si pasien : "Waaaahhh... cepat ya. Sip deh dok."

Oke, sip deh tante... Mantep doanya !

Monday, December 13, 2010

visite Jakarta

Saya ke Jakarta Sabtu dan Minggu kemaren dalam rangka kunjungan kenegaraan .

FYI, ini adalah kali keempat saya ke Jakarta. Dan entah kenapa, belum ada satupun experience selama di Jakarta yang bikin saya pingin balik lagi atau ngarep-ngarep pengen kesana lagi. Apa emang saya yang orang udik kali ya... nggak cocok kalo ditaro di kota megapolitan macem Jakarta.

Pertama kalinya saya ke Jakarta, waktu saya SMA kelas 1. Super excited karena bakal ngeliat ibukota untuk pertama kalinya. Saya kesana waktu ujian masuk Nanyang something. Cuma 2 hari 1 malam dan nginep di rumah famili. Macetnya ya oloooooooohhh.... Waktu itu saya sempet kuatir telat ujian, telat ke airport, ditinggal pesawat, dll dsb dst. In the end, telatnya sih enggak, tapi mepet banget. Rasanya hari itu hidup saya di Jakarta deg-degan terus...

Kedua kalinya saya ke Jakarta waktu tahun 2006. Nggak pake nginep. Saya berangkat pagi dan langsung pulang malemnya cuman buat ngikutin seminar. Karena seharian saya di venue, saya emang cuma ngerasain macet pas menuju dan dari airport. Great ! Pulang ke Surabaya rasanya badan udah lemes luar biasa. Malem itu saya mimpi diklakson banyak mobil yang nggak putus-putusnya. Sialan.

Kali ketiga saya ke sana, saya cuman nginep semalem di hotel daerah Ancol bareng camer. Lupa tahun berapa. Pokoknya waktu itu camer lagi ngikutin seminar, saya ikutan karena emang dari dulu pengen banget ke Dufan. Too bad, saya lagi sakit DB waktu itu. Jadi saya agak termati-mati juga sih waktu naek wahana-wahana disana. Nggak puas-puas amat jadinya... T______T

Yang terakhir ya kemarenan ini. The worst of all. Saya nginep di rumah Yima, kakaknya Ama saya. Misi saya di Jakarta Sabtu-Minggu kemaren ini cuma 2 : ke tempat course, sama ke klenteng untuk sembahyang. Hari Sabtu saya ngabisin 5 jam di jalan gara-gara macet. Oh itu belum apa-apa. Hari Minggunya lebih parah lagi....

Saya rencananya mau ke klenteng jam 7 dan course jam 9. Sebelumnya, saya udah janjian sama sepupu Papa yang emang selama 2 hari kemaren diamanatkan buat jadi guide saya selama di Jakarta. Dia bakal jemput saya jam 6.30 di rumah.

Jam 7 belum muncul-muncul...
Jam 7.30 saya telpon juga katanya baru berangkat...
Pas dia (akhirnya) muncul jam 8, saya udah mau semaput

Apa boleh buat, saya tetep ke klenteng. Dan berdoa semoga nggak telat ke course secara hari itu juga bakalan ada kuis. Waktu mau pulang, si om tiba-tiba nyetop bajaj.

Saya : "Lho om, mobilnya kemana ? Kok kita naik bajaj ???"
Om saya : "Jauh tuh di sonoooo... kita naik bajaj aja ke parkiran."
Ternyata om saya markir mobil sama kayak jarak dari Patung Kuda sampe depan PTC. Zzzz...

Pertama kalinya saya naik bajaj, dan mobil oranye beroda tiga itu ngebut kayak orang dikejar setan. Untung aja nggak kebalik. Mengingat roda depannya cuman satu biji. Bad experience. Kalo nggak kepepet, saya nggak mau naik bajaj lagi.

Begitu kita nyampe mobil, kali ini giliran om saya yang nyetirnya ngebut kayak dikejar setan. Dan paniklah dia pas tau di sekitar jalan Sudirman pada ditutup. Dia berusaha nyari jalan alternatif tapi malah nyasar kemana-mana. Saya lebih panik lagi. Lha yang orang Jakarta aja nggak tau jalan, apalagi saya. Lebih panik lagi pas sampe di belokan jalan, tiba-tiba mobil berhenti.

Om saya : "Mil, ada berita buruk nih."
Saya udah speechless... Saya lagi nggak pengen denger berita buruk apa-apa. Aaaaarrgghhh...
Om saya : "Mobilnya mogok. Bensinnya abis nih. Ayo kita dorong."
Di tengah jalan padat kendaraan. OMG !!!!

Begitu mobil berhasil dievakuasi, akhirnya saya naek taxi. Pertama kalinya saya naek taxi di Jakarta. Belum nyampe tujuan, si sopir taxi malah berhenti di pangkalan ojek dan bilang gini sama saya : "Neng, abang nggak bisa terus nih. Jalanan ditutup. Eneng jalan kaki aja ya nyampe hotelnya. Palingan cuman 20 menit. Atau kalo mau cepet, naek ojek neng."

Saya udah telat 45 menit. Nggak ada pilihan lain, saya terpaksa naik ojek. Nggak sempat screening wajah dulu, saya asal naek aja. Sempat stress juga sama BB nya si tukang ojek. Kapan ya terakhir kali dia mandi ???

Tukang ojek : "Neng, helmnya dipake gih."
Saya nerima helm yang dia kasih. Spons di dalem helmnya basah banget sama keringet sejuta umat. Hiiiiiiyyyyy....
Saya : "Bang, harus dipake ta helmnya ?"
Tukang ojek : "Iye neng, masa diliatin doang. Ntar abang bisa ketilang."
Saya : "Ntar aja saya pakenya kalo ada polisi ya."
Tukang ojek : "Oh, jangan-jangan basah ya neng. Mau tuker sama punya abang ?"
Udah saya milih diem aja. Pokoknya saya nggak mau pake kecuali kepaksa. Apalagi pake punyanya si tukang ojek.

3 bulan lagi kalo saya ke Jakarta, saya milih nginep di venue aja. Daripada saya hangover di jalan.

Tuesday, October 19, 2010

yoga

Masa kemarin ada pasien yang bilang gini nih sama saya :

"Dok, enggak ikutan yoga di sebelah ??"

Ruko sebelah -beberapa ruko di sebelah maksudnya- emang tempat yoga. Tapi saya nggak pernah mampir kesana. Saya malah lebih sering sowan ke ruko bakery yang juga tetanggaan, atau gerai fastfood yang hanya selemparan batu jauhnya dari tempat praktek.
Bener-bener pola hidup yang nggak sehat, hahaha...

Jadi singkat cerita, si pasien ini maniak olah raga yang sebangsa senam-senam gitu... Ya aerobik, yoga, SKJ, poco-poco cuman senam hamil aja yang belum. Dan menurut dia, badan saya yang kurus ini pasti sangat menunjang untuk ditekuk-tekuk kalo pas yoga.

"Soalnya kan kursinya dokter enak banget *dental chair maksudnya* Jadi ntar abis yoga, capek-capek, kan bisa tidur-tiduran disini."

Eh, boleh juga sih idenya ! :D

Monday, August 30, 2010

about gigi sehat

Mari kita dengar apa komentar pasien-pasien tentang GS Gigi Sehat :



"Kenapa namanya Gigi Sehat, dok ?"
Asal muasal nama ini aslinya cuman celetukan iseng aja dari om saya yang akhirnya kita realisasikan. Toh namanya juga ear catching. Apa ya istilahnya ??? Easy listening ??? Hahaha... Kesannya natural aja sih.


"Kok nggak pake plang nama dokter aja kayak yang di Kalasan ??" (Kalasan itu main clinic kita. Yang kedepannya juga bakal di-plang-in GS juga *mungkin*)
Ini dia repotnya. Gara-gara ada ketentuan plang dokter dari dinkes, menkes, whatsoever... ya jelas saya nggak mungkin majang nama dokter di papan segede gajah yang ditaroh di atas ruko dong. Hahaha, jadi ya for the time being, untuk urusan nama, saya taruh di dalem ruang praktek dulu.


"Logonya kayak logo anak-anak ya dok."
Ide logo ini awalnya juga cuman celetukan iseng om saya aja : 'ya misalnya GS nya dibikin kayak CN-nya Cartoon Network gitu' Hahaha...kalo yang ini sih karena kita juga sama-sama repot dan nggak pernah mbahas masalah 'kecil' ini sampe detail, akhirnya ya beginilah jadinya... Apalagi waktu itu saya juga lagi nggarap proyek klinik pedo, alhasil ya kebawa-bawa deh spiritnya.

"Idenya siapa nih bikin praktek dengan konsep ginian ?"
Mixed. Inilah enaknya punya beberapa otak yang masih sekeluarga di dalem klinik. Kadang walopun nggak pas meeting tapi kalo lagi pergi atau kumpul-kumpul bareng, kita suka mbahas konsep yang mau diterapkan di praktek. Kayaknya sekarang saya ngerti kenapa banyak dokter gigi yang pengen anaknya, mantunya, ponakannya, cucunya, kalo bisa cicitnya sekalian jadi dokter gigi juga. Mungkin ya biar gampang komunikasi untuk mengembangkan klinik dan mewariskan praktekan, gitu sih intinya...

"Warnanya kok ijo ya ?"
Soalnya kita udah terlanjur beli keset warna ijo, biar match gitu, hahaha...

"Plangnya kurang besar ya kayaknya ?"
Gile, kalo dibesarin lagi, kalah deh gajah rumput di depan Lenmarc :))

"Harusnya dikasih apa gitu lho biar menarik perhatian."
Panggung gembira ??? Hahahaha, tarik maaaaanggg...

"Waaaah nggak ada tahu campurnya." (praktek yang di Kalasan emang seberangan sama tukang tahu campur yang saking maknyusnya sampe pernah masuk wisata kuliner di transTV)
Hehehe... harusnya Pak Mahfud (founder tahu campur Kalasan) disaranin juga buat buka lapak di ruko sebelah ya :p

"Ini jualan alat-alat gigi juga ta ?"
Kok nggak pernah ya ada pasien nyasar masuk ke dental supplier gitu misalnya trus nanya : "Disini juga ada praktek dokter giginya ta ?"
Tapi kayaknya saya mesti mikirin konsep dental clinic yang dilengkapi dental supplier dan museum gigi juga buat beberapa tahun ke depan. Kayak HOS gitu, wakakakaka... pasti keren nih.

Thursday, August 05, 2010

new land :)


 
Thanks God !!! We're also rocking now in West Surabaya :)
*lha kok kedengerannya kayak buka tempat ndugem ya, bukan klinik gigi... Hahaha...*

Thursday, July 29, 2010

the granny strikes back

Belom ada 2 hari saya ketemu pasien emak, eee... kemaren dia udah muncul lagi. Emang sangar banget si mak. Kali ini dia ke praktek sambil ngajak bolo, yaitu anaknya yang paling gede. Like mother, like daughter... tante ini nggak kalah cerewetnya sama mak. Alhasil nggak cuma si mak yang heboh ngomplain ini itu, anaknya juga ikutan cicitcuit di samping saya. Sampe saya susah payah mesti nginterupsi biar kebagian jatah ngomong.

Kemaren si mak mengeluh kalo lidahnya kerasa sumpek sama gigi palsunya yang bawah.
Nah, bingung toh ???

Saya : "Sumpek maksudnya gimana mak ?"
Emak : "Ya sumpek. Pusing gitu rasanya."
Anaknya : "Maksud mama, kayak mbulet-mbulet gitu lho dok."
Obrolan yang bikin pusing emang...

Saya : "Lho mak, yang sakit itu giginya ato kepalanya ???"
Cuma ngecek... maklum, saya mesti kudu banyak sabar kalo ngadepin pasien usia lanjut. Selain takut kualat, kan saya juga keinget sama Ama-Akong saya sendiri kalo ngadepin mereka.

Emak : "Ya gigi palsunya. Lidahnya ini lho. Kalo melet, rasanya sumpek. Sampe pusing dok rasanya."
Kalo emak aja pusing, apalagi saya, mak...

Ngeselin-ngeselin gini, kadang emang lucu banget nih emak... Masa pas dia bilang lidahnya sumpek, dia juga sambil mijet-mijet kepalanya. Udah gitu, anaknya juga ikut-ikutan mijet-mijet kepalanya.

Trus, sempat juga si emak ngomong sama anaknya gini nih : "Untung ya Lan, dokter noniknya sabar."
Kalo dokter senior yang disuruh ngadepin, ya pasti esmossssssiiii ngadepin mak ini. Masih untung kalo cuma emosi, kalo sampe kena serangan jantung piye ? Kalo sampe stroke piye ?


Akhirnya saya benerin sampe si emak ngomong enak. Ternyata nggak cuma itu, komplain masih berlanjut. Nggak kalah anehnya, kali ini dia ngerasa giginya kependekan. Dan gara-gara kependekan itu, dia parno kalo giginya enggak bisa dipake nggigit jenang.
OMG, jenang again ???

Saya : "Kalo udah ada umur, mbok ya jangan makan jenang gitu lho mak... Makan buah gitu lho mak biar sehat. Jangan yang lengket-lengket ato yang keras-keras mak."

Emak : "Padahal dulu waktu mak masih muda, mak bisa makan macem-macem." sambil rada mewek
Anaknya : "Iya dok, kasihan mama..."
Dan suasana mendadak jadi mellow... Sebelum terjadi hujan air mata, saya poles-poles si gigi palsu seadanya. P
ercuma aja saya nasehatin macem-macem. Apalagi kalo saya kuliahin soal anatomi gigi ato oklusi ideal. Toh mereka masa bodo kalo dijelasin soal overbite dan overjet normalnya 2 mm something itu... Aaaaarggghhh...

"Pokoknya mak minta gigi mak kayak giginya dokter. Persis. Sakpanjang-panjangnya juga persis. " kata si mak.

Repot-repot, saya tunjukin gigi saya ke si emak dan anaknya. Mereka kayaknya shock pas liat gigi depan saya yang emang nggak bisa dipake nggigit apa-apa karena open bitenya hampir 5 mm.

"Gimana mak ? Masi mau punya gigi kayak gigi saya ? Bayangin mak, seumur-umur gigi depan saya ini malah nggak bisa dipake nggigit apa-apa lho mak..."

Si mak akhirnya diem. For the first time !!!! Hahaha, sakti juga punya gigi open bite gini... ;)

Tuesday, July 27, 2010

nenek masa kini

Siapa bilang cuma pasien anak-anak aja yang bikin pusing kepala... Pasien geriatri juga bisa bikin operatornya pusing. Apalagi kalo si pasien bukan cuma pikun, tapi juga cerewet.
Okelah, saya emang nggak bisa menyalahkan konsep kehidupan. Kalo pikun itu takdir. Tapi... cerewet itu pilihan.

Dan pasien emak-emak ini bukan main cerewetnya... Saking cerewetnya, buat bikin gigi palsu aja dia udah bolak-balik ada 10x an ini. Padahal kalo pasien-pasien lain, lazimnya sih dateng 3-5x juga udah selese. Tapi mak ini emang paling sangar, modelnya aja kalo ke praktek udah kayak pasukan berani mati. Mottonya sih kayaknya : vini vidi vici...

"Pokoknya mak nggak mau mahal."
Itu topik obrolan hari pertama. Si mak udah menyepakati harga dan dia kayaknya sadar waktu dijelasin bahwa DP bahan bersifat mengikat dan nggak bisa diminta balik seandainya batal.

Eeee besoknya, si mak tiba-tiba mengundurkan diri dan minta duitnya balik. Alasannya : dia barusan nemu tukang gigi yang jauh lebih murah daripada tempat kami. Jujur banget nggak seh ??? Padahal di lab, giginya udah sampe tahapan nyusun gigi. Well, akhirnya om saya beralasan sama si lab kalo si mak tiba-tiba stroke dan koma dan nggak bisa nglanjutin perawatan.

Eeee... besoknya dia mbalik lagi. Dia nggak terima kalo duitnya nggak mbalik 100%. Padahal udah dijelasin di awal perawatan. Si mak bilang kalo dia nggak ngerasa dijelasin soal DP-menDP itu...
Okay, blame the age. Mungkin umur 70an something ya udah lumrah kalo pikun.
Deal hari itu : si mak jadi mbuatin gigi lagi... Dia pengen perawatannya tuntas. Om saya nelpon ke lab lagi. Bilang kalo giginya jadi diproses, soalnya pasiennya mendadak sadar dari koma *alasanmacammanapulaini*

Gigi diproses, si mak dateng lagi buat try in... Dia nangis, katanya giginya kegedean.
Langsung saya bongkar secara masih model malam juga... Abis diamat-amatin DENGAN SANGAT SEKSAMA sama si mak, dia ngomel lagi, katanya kekecilan...
In the end, dia bilang pengen punya gigi kayak gigi saya. What the ??????

Besoknya pas dia dateng lagi, om saya udah nyiapin stock teeth beraneka merk, warna, ukuran, dan tipe. Si mak dipersilahkan memilih stock teeth sesuai selera dia. Abis si mak acc, suster nyatetin model yang dia pilih. Maksudnya ya biar ntar kalo pikunnya kumat, kita punya footnote buat ngingetin si emak...

Pas dia dateng lagi, dia komplain. Giginya nggak sesuai dengan yang dia pilih katanya. Okelah, kembuletan ini berlangsung berkali-kali dan berhari-hari sampai akhirnya si gigi palsu jadi. Hahaha, akhirnya gigi si mak jadi juga. Sebelum bukain pintu buat si mak, salah satu suster saya udah bilang : "Bismillah. Semoga lancar. Biar nggak langganan antre di depan terus ya dok."
Ya iyalah, secara dia muncul terus-terusan. Dan well, tampangnya cukup mengintimidasi kalo diliat dari kamera cctv.

Lagi-lagi adaaaaaaaaaaa aja yang dikeluhkan. Awalnya sih masih keluhan standard. Lama-lama keluhannya jadi aneh. Seminggu pasca insersi, si mak mengeluh gigi bawahnya kemajuan. Besoknya lagi, dia bilang kemunduran. Besoknya lagi, dia bilang giginya kayak gunung. Terakhir pas datang, dia bilang di langit-langit gigi palsu yang atas kayak ada permen yang nempel.

"Lho lha yang mau nempelin permen di gigi palsunya mak itu lho siapa mak ???" saya ya terheran-heran
"Pokoknya mak ngerasa ada permennya." gitu sih kata dia...

Akhirnya si mak nyobain makan. Ini juga gara-gara dia bilang kalo gigi palsunya enggak bisa dipake makan sama sekali. Pas saya sodorin pisang goreng, si mak makan dengan penuh penghayatan.

Abis sepotong pisang goreng, si mak minta nambah.

"Lho mak, berarti kan gigi palsunya udah enak to ? Tuh sampe nambah..." kata suster saya.

Tau nggak apa kata si emak ?
"Lho sus, kalo buat makan pisang goreng sih bisa. Makan bubur ya bisa. Tapi makan jenang masih belum bisa."

zzzz....

Monday, July 26, 2010

awards from chacha

Hahaha, dikasih award nih sama Chacha... thanks ya Chaaa.... *udah lama banget ga maen ginian*

and there are the question with this award,
they're:


1. Berapa blog yang kamu punya dan berapa umurnya?
cuman punya 1 blog ini tok, hahaha... Umurnya berapa ya... Pokoknya kalo blog ini sih startnya dari Desember 2006. Dulu ya punya sih, tapi udah RIP soalnya lupa passwordnya. Alhasil pas dibuka, errrrrorrrrr terus. Yaudah, relakan saja... :'(

2. Sejak kapan kamu mengenal dunia blog?
sejak 2003 (atau 2004 ya ?)
Gara-garanya sih saya baca majalah Gadis *it's been years for sure* Katanya sih, biar lebih produktif ngisi waktu, gimana kalo nulis blog. Hahaha... ya balada anak SMA. Pas itu saya emang tergila-gila sama sesuatu yang konsepnya do it yourself gitu. Alhasil jadilah saya mulai nulis-nulis blog...

3. Mengapa tertarik membuat blog dan untuk apa?
hahaha... buat melepaskan stresssss..... Saya lebih suka nyampein sesuatu dalam bentuk tulisan daripada omongan soalnya. Eee... sapa tau juga besok-besok ada produser yang berminat nerbitin blog saya jadi buku *ngarepngayaldotcom*

4. Apa kelebihan dan kekurangan blog kamu?
waduh kalo kelebihannya, saya juga nggak tau apa kelebihannya. Yang jelas, saya bisa ngurangin stress kalo nulis blog *selaen maen plants vs zombies* Kalo kekurangannya sih, saya sering nggak update, hahaha... it depends on my mood soalnya. Dan banyak yang bilang kalo gaya tulisan saya terlalu seriusssss... Nggak kayak bahasa omongan saya sehari-hari. Ya kalo sehari-hari saya ngomongnya ala blog ya bisa-bisa pasien saya kabur semua to. Dikira ini guru bahasa Indonesia, bukan dokter gigi. Kekurangan lainnya ya monggo ditambahkan sendiri ya readers... Boleh via comment deh :)

5. Award dan tag ini berikan kepada 5 teman blogger yang lain.
Hehehe... saya kasih ke semua fellowbloggers deh :) Monggo ditag masing-masing ya.